Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Oktober 2016

For the first time, I realized

     Aku berjalan menyusuri pantai, ditemani suara ombak yang berirama dan terik matahari yang begitu menyengat. Aroma khas dari air laut yang bertemu pasir pantai yang terhembus membuat ku relax sejenak akan penat yang kudapati setelah sekian lama kubekerja. Aku terdiam, lalu terduduk dipasir pantai dengan menghadap matahari. It feels warm. Kupenjamkan mata, kutarik nafas dalam - dalam dan aku melihat sosokmu. Aroma khas dirimu datang, membuat hati bergetar dan jantung berdegup kencang. Aku teringat, pancaran dari dua bola matamu yang kurasa... There is something, something that I hope it won't put me in. But in the fact, I'm in to.

     Aku teringat, ketika pertama kali nya kita bertemu.. Kau menjabat tanganku dan bersikap seolah aku hanya wanita biasa.. Tidak menarik. Memasang wajah datar dan tersenyum dipaksakan. Aku yakin pada saat itu, -walau kita baru saja berkenalan- kamu tidak mengingat namaku. Pertemuan yang aku rasa cukup untuk membuat aku mual dan terpingkal - pingkal. Gadis berkacamata, bert-shirt dengan gaya yang tomboy dan bermodelkan rambut bak dora di serial dora the explore, ( ketika dibayangkan, tak mengira betapa menjijikan sekali aku ini ). Poor girl and pathetic, enggak ada sama sekali hal yang menarik dari diriku saat itu. Sama hal nya denganku memandang sosok dirimu. Sepintas, Kupikir kamu sama saja dengan yang lain, laki - laki yang sedang menikmati hidupnya dengan bahagia, menghabiskan waktu senggang dengan hangout bersama teman, dan ...... .

     Pertemuan berikutnya, setelah sekian lama dari pertemuan pertama. Masih biasa. Perbincangan yang kita lakukan hanya sebatas pekerjaan semata tok. Dan kita sama - sama sedang menaruh perhatian terhadap orang lain. Tetapi, waktu itu, percakapan kita mulai berbeda. Kamu terlihat seperti sedang meggoda, dan dalam pikiranku terlintas "what the...". Aku berfikir, aah mungkin cuma lelucon.... yang hanya untuk sekedar mencairkan suasana. Aku pun tak ingin tertarik akan gombalan mu itu dan akupun bersikap sewajarnya dalam menanggapi nya. Tersenyum dan tertawa kecil. No, that is not for a fake smile, hanya saja diriku menganggap ini hanya sebatas percandaan kecil yang kamu ciptakan. Dan pada saat itu, rasa ku datar.

     Time goes by, I don't remember when, why, and how(?). Dirimu yang mulai saat itu menyapa, walau sekedar "hai", "smile", dan "menggoda" terasa berbeda disetiap waktunya... seperti sedang menanam sebuah bibit dihatiku. Dan bibit itu padaku, ku rasa mulai tumbuh. Aku -yang pada saat itu sedang tergila - gila pada seorang lelaki, dan membuat diriku terlihat sangat bodoh sekali ini- mulai berpaling kearahmu. Mulai dihari itu dan seterusnya, aku mencari sosokmu.

     Suaramu, menentramkan sekaligus meretakkan hati ini. Matamu, menyiratkan sesuatu... sesuatu yang jika dinilai oleh firasat adalah memiliki ketertarikan terhadapku. Terkadang disetiap kesempatan aku mendapati kamu sedang menatapku, -entah memang begitu adanya atau hanya kebetulan- dan aku menikmatinya. Tak jarang juga aku memperhatikan sosokmu.  Kind of funny guy, pikirku. Lalu tanpa sengaja, mata kita bertemu.

     Aku terbangun..., beranjak dari lamunan ingatan sore dipinggir pantai di Dreamland hidden beach, Bali. Oleh suara dering pesan masuk di Smartphoneku, yang ternyata adalah sebuah pesan... dari kamu.

Senin, 20 Juni 2016

Hujan Kelabu

     Sekarang bulan juni, tetapi entah mengapa hujan selalu ingin kembali turun kebumi meski bukan musimnya.

     Awan - awan gelap berkumpul, membentuk suatu kawanan tak berbentuk yang sedikit mengerikan. Mencoba menutupi keceriaan matahari yang menyinari hari. Sekilat cahaya perlahan muncul memberi kesan misterius disana. Gemuruh suara mengikuti seiring dengan cahaya kilat yang berlalu.

     Tik..tik..tik.. satu persatu tetesan air mulai menyentuh tanah. Rindu akan sentuhan air mungkin yang dirasakan oleh tanah kala itu terobati. Mereka bersuka cita akan jatuhnya kembali gemercik – gemercik air yang singgah.

Aroma khas itu datang.
     Salah satu aroma yang aku rindukan dan aku tunggu ketika musim hujan datang. Aroma -yang aku tidak tahu nama ilmiahnya-  yang dapat memberikan rasa tenang dan tentram, dan dapat membangunkan kenangan yang terasa pahit setiap dirasakan.

     Aku keluar dari tempat persembunyianku selama ini. Memasuki pekarangan dibelakang rumah ku, aku mendongkak keatas. Membiarkan tetesan – tetesan hujan memgenaiku dan mulai membasahiku. Dengan reflek diriku tersontak kaget, percikan – percikan air yang tadinya damai menyentuh diriku kini jatuh lebih keras seakan kian marah. Mereka mulai menyerang dengan bertubi – tubi menghujani tubuh ku. Aku diam. Mencoba untuk menikmati sakit yang diberikan oleh ribuan hujan yang jatuh.

     Sakit yang kurasa mungkin tidak setimpal dengan apa yang telah aku perbuat.

Aku menangis.

     Air mata yang membasahi pipiku menyatu dengan derasnya air hujan yang masih mengenaiku.
Aku berteriak. Menangis sejadi – jadinya.

     Hujan yang begitu deras dan petir yang menggemuruh mengunci semua teriak histerisku. Hanya ada bunga layu dan rumput hijau yang bersuka cita yang menjadi saksi bisu kala aku menghukum diriku sendiri. Dan ini belum cukup. Belum sepenuhnya cukup untuk mengobati rasa penyesalan yang terlambat aku sadari.

Aku berteriak sekali lagi.

Memaki betapa bodohnya diriku dan ku katakan aku benci pada diriku sendiri.


     Cahaya kilat sekali lagi terlihat di sekitar deretan awan hitam. Suara petir itu menggelegar sangat keras, mengagetkan hingga aku jatuh tersungkur.
Aku masih terisak. Dan masih membiarkan hujan ini menghakimiku dengan sesukanya.

Jumat, 16 Oktober 2015

Kamu

     Hallo kamu.. Iya kamu.

     Kamu yang selalu memunggungi ku. Melihat ku ketika aku tak melihatmu. Terkadang memperhatikanku ketika aku fokus pada kerjaanku. Iya aku tahu, diam - diam kadang kamu sedang memperhatikan dan memandangiku dari kejauhan. Bukannya aku "sok kepedean" akan hal itu, TIDAK. Hanya saja aku merasa, dan benar adanya ketika aku melihatmu kamu langsung memalingkan pandanganmu dariku.

     Teringat pada suatu hari, ketika aku untuk pertama kalinya melihatmu berjalan dikoridor. Aku hanya memandangimu dari balik meja kerjaku sambil bertanya - tanya siapakah dirimu. Aku tersipu malu, ketika harus bertemu pada satu titik dimana kita saling bertemu pandang. Pada saat itu aku hanya berfikir, aku menyukaimu. Aku langsung jatuh hati ketika melihat mu. Aura mu membuat jantung ini berdegup lebih kencang. Sorotan matamu membuat darah ini mengalir lebih cepat, seakan ada pendorong yang kuat dan emosi kebahagiaan yang semakin meningkat.

     Iya aku bahagia, hanya dengan melihat bagian dari dirimu. Punggungmu, matamu, semua akan dirimu membuatku tak bisa berkata apa apa. Aku terpana akan sosok mu. Gaya bicaramu yang khas ditelingaku. Tatapan mu yang.... Ah aku benar-benar jatuh didalamnya. Entah perasaan apa yang membuatku mabuk kepayang akan semua tentang dirimu.

     11 bulan yang lalu, untuk pertama kalinya aku melihat mu. Hari demi hari setelah itu aku menghabiskan waktuku (selain bekerja) hanya untuk mencari siapa dirimu, siapa namamu, darimana asalmu, dan yang terpenting....."are you still single?". Berusaha tiada henti aku mencoba, menjelajahi dunia Maya, melihat data dirimu di data karyawan ( yeah I'm the genius stalker �� ). Dan akhirnya aku tahu namamu, siapa dirimu, dan status kamu kala itu adalah "single". Bukan main hati ini berkata "aaaaaargh thank God!!!!!", disitu ada harapan. Lalu aku berdo'a, "Tuhan, jika memang dia.. Tolong dekatkan kami, tolong permudahkanlah jalanku untuk bisa berada disampingnya". Dan tahukah ? Tuhan benar-benar mewujudkannya.

     1 bulan setelah usahahku itu, jarak antara aku dan kamu semakin dekat. Aku bisa melihatmu, kamupun sama bisa melihat diriku disini. Hari hariku dipenuhi dengan betapa bersyukurnya diriku. Kebahagian yang hadir dengan hanya melihatmu. Mendengarkan ceritamu, kamu menanyakan hal-hal yang ingin kamu ketahui tentang diriku. Ya, kita berbincang bersama. Belum lagi candamu yang elegan, yang dapat membuatku tidak bisa berpaling untuk terus memandangimu. Lalu gelak tawamu yang membuatku merasa kamu lebih dari cukup. Cukup sudah untuk membuatku merasa bahagia dan bersyukur tiada henti.

     Sesaat. Iya, kebahagiaan yang hadir hanya untuk sesaat. Aku mendapati bahwa dirimu telah mengikat janji suci dengan orang lain. Hatiku hancur. Kebahagian yang telah aku bangun, runtuh tak berbentuk. Rasa sayang yang kian semakin dalam, sekejap berubah menjadi kekecewaan yang berlarut. Untuk sekarang dan hari-hari berikutnya canda tawamu, dan perbincangan bersama dirimu akan menjadi belati kecil yang menggores-gores dihatiku. Aku terpuruk bersama kenangan-kenangan manis tentang dirimu. Dengan melihatmu pun (sekarang) hati ini terasa sakit. Rasa sakit didada ketika aku tahu kamu bukanlah ditakdirkan untukku. Kesedihanku meluap, aku menangis.

     Ya aku bodoh!. Aku terlalu mengharapkan sesuatu yang pada akhirnya aku tahu itu hanya khayalan semata.

Jumat, 09 Oktober 2015

Unforgettable Memories

21 desember 2014
   Aku telah kehilangan seseorang yang begitu amat sangat menyayangiku. Jam 20.10, untuk terakhir kalinya aku mendengar detak jantungnya. Untuk terakhir kalinya aku merasakan kehangatan tangannya. Untuk selama lamanya papah tertidur dalam kedamaian.

20.00/21 desember 2014
   Aku menggenggam tangan nya, aku merasakan sudah tidak ada tenaga lagi disana. Kesunyian yang dibuatnya semakin membuatku gusar. Aku membisikan berkali kali ditelinganya, bahwa aku sangat teramat menyayanginya, aku rela jika sudah waktunya (dalam hati aku tak kuat menahan seandainya itu yang terjadi). Aku tidak kuat melihat dirimu yang terbaring dengan balutan penuh darah dikepala. Terbaring lemas tak berdaya. Bahkan untuk membuka mata saja dirimu tak sanggup. Betapa naif dan egoisnya diriku kalau membuatmu harus bertahan dengan keadaan seperti itu.

20.15/21 desember 2014
   Aku merapihkan bajumu, membuat dirimu senyaman mungkin. Memberikan jaketku untuk menghangatkan dirimu. Tak sengaja aku melihat kesekeliling.. Alat alat medis yang begitu asing. Infusan yang menurutku untuk apa benda itu disana. Lalu, aku terpaku pada monitor yang menunjukan angka yang menghitung mundur. Aku yakin itu adalah semacam benda yang mengukur denyut jantung mu. Seketika aku memanggil seseorang yang mengerti akan hal itu. Semakin lama semakin cepat angka itu berubah ke angka yang lebih kecil. Beberapa orang datang menghampiri mu, tirai ditutup, mereka melakukan sesuatu didadamu. Aku panik, aku menangis, aku memohon, jangan! Jangan! Dan jangan!!! Damn!! Fuck!! Shit!! Aku menjambak rambutku. Seperti orang yang kesetanan. Aku tidak percaya hal ini benar terjadi!!!! Dokter mendatangiku, lalu berkata bahwa kamu tidak tertolong. Mereka berkata seolah mereka melakukan semampu yang mereka bisa untuk menolongnya(yang aku tahu itu semua hanya omongkosong belaka!). 


Satu minggu sebelum kejadian,

   "Aku berdiri, terdiam dan tidak tahu sedang apa aku disana. Aku melihat disekitar ku, Batu Nisan, kuburan. Ya, aku ditempat pemakaman. Aku bingung untuk apa aku disana. Aku melihat beberapa orang sedang menyiapkan satu makam.
Secara tiba - tiba, semua orang berkumpul. Sanak saudara. Aku menyadari seseorang dalam keluargaku ada yang pergi kembali menuju tempat Tuhan. Tapi siapa? Aku bertanya tanya dan takada satupun yang memberi jawaban pasti. Aku mencari - cari. Aku menangis ketika melihat nama disebuah papan Nisan. Tidak mungkin!!. Aku masih tidak percaya, tidak mungkin itu benar terjadi!. Aku tersontak dan tersadar bahwa tepat didepanku ada seseorang yang membeku. Terbungkus rapi oleh kain yang begitu putih nan bersih. Ketika kain wajahnya dibuka, bukan main aku histeris melihatnya. Papah terbaring kaku disana, telah siap untuk diturunkan ke tempat peristirahatannya yang terakhir."

Tet... Tet... Tet...
   Alarm berbunyi aku terbangun. Papah disana, sedang menonton film disaluran televisi berkabel. Terima kasih lega, ternyata itu hanya sebuah mimpi.

   Sejak aku bermimpi, aku terus memikirkan bagaimana kalau hal itu benar - benar terjadi. Entah mengapa minggu itu menjadi hari hari dimana rasa takut dan rasa kehilangan memenuhi semua ruang dikepalaku. Setiap aku membuka account social media, selalu berita berkabung yang muncul dilaman beranda ku. Kehilangan orang terkasih, merindu akan orang terkasih yang sudah pergi kedunia berbeda. Aku mulai memikirkan mimpi itu dengan serius. Aku belum sepenuhnya menjadi anak yang bisa dibanggakan. Aku masih banyak membuat kesalahan-kesalahan terhadapnya. Mampukah aku hidup tanpa bimbingannya.(?)

   Aku memandangi papah yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Melihat rentan fisiknya. Tanpa ku sadari papah sudah semakin menua. Semakin banyak rambut putih yang menghiasi rambut dikepalanya, semakin banyak kerutan diwajahnya. Dan menyadari sudah betapa jarangnya aku tidak bercakap cakap dengannya, tertawa bersama, menikmati waktu bersama.

   Rabu sore, aku mendatangi tempat kerjanya. Sambil membawakan makan siang untuknya. Benar saja papah terkejut akan kedatanganku. Ia bertanya ada gerangan apa aku datang ketempatnya. Aku hanya menyengir seperti kuda dan menjawab "hanya ingin menengok dan membawa makanan kesukaan untuk papah". Papah terlihat sedikit terkejut, dan berkata "kamu bawa apa?" (Terlihat penasaran dengan makanan yang ku bawa). "Soto mie" jawabku sambil membuka bungkusannya. "Yah mana bisa papah makan kalau dibungkus gitu?" Dengan muka sedikit kecewa yang papah coba sembunyikan. Aku berjalan menuju motor ku dan membuka joknya, "tenang, dd bawa tempat sama sendoknya ko" dengan tersenyum aku melihat kearah papah. Lalu aku berkata "papah belum makankan?", papah menjawab dengan singkat "belum". Setelah kusiapkan makanannya, aku mempersilahkan papah makan dan meminta papah untuk berhenti melakukan pekerjaannya. Dan dengan lahap papah menikmati makanannya. "Kamu tau ya kesukaan papah" ucapnya, "iya dong" jawabku cepat.

   Aku mengamati setiap detik berada didepannya. Sesuap demi sesuap makanan ia lahap. Mendengarkan celotehan tentang pekerjaannya yang semakin membaik di hari demi hari. Aku turut senang. Untuk kesekian lamanya aku tak merasakan hal ini. Rasa yang membuat hati ini bergejolak menggebu-gebu. Rasa dimana aku menyadari bahwa betapa aku sangat menyayangi seseorang yang tepat berada didepanku. Aku memutar balik otakku, mencoba mencari memori-memori kenangan indah bersama papah. Tersenyum sendiri memikirkannya. Aku menyadari betapa aku juga sangat mengaguminya. Tidak mau pergi jauh darinya. Betapa aman dan nyamannya aku berada disampingnya.

   Telah selesai dari istirahatnya sejenak, ia harus melanjutkan aktivitasnya kembali. Aku berpamit untuk pulang, tapi papah menahanku. Aku mencoba untuk tinggal lebih lama. Kembali memperhatikan dan berbincang dengannya. Sampai ada beberapa customer datang, mau tak mau ia harus mengiyakan pamitanku. Aku bergegas siap untuk pulang, sambil aku tersenyum dalam balutan masker dan memberikan lambaian tangan. Dia tersenyum mengangguk, mendekatiku lalu mencium keningku dan berkata "hati hati ya de". Lalu aku berlalu pergi.

Sabtu/20 December 2014/15.20

   Sepulang dari kantor, aku berencana ingin berkunjung kembali ke tempat papah. Ingin membelikan makanan kesukaannya lagi. Tapi keadaan pada hari itu selalu tidak mendukungku. Toko dimana yang menjual makanan itu tutup lebih awal. Aku mencari keseliling untuk mencari makanan apa yang bisa aku bawa. Tapi aku terhenti. Tidak ada satupun penjual yang menarik hati. Lalu entah mengapa perasaanku mulai aneh tak karuan. Niat yang kuat untuk menjenguk papah tiba-tiba goyah akan isu yang beredar tentang polisi yang merazia disepanjang jalan menuju tempat kerja papah. Sayangnya aku belum mempunyai izin untuk mengendari sebuah kendaraan. Aku sudah meminta papah jauh-jauh hari sebelumnya untuk menemani ku membuat surat izin menngemudi. Dan ia mengiyakan hari senin akan menemaniku. Karena terpaku akan tidak adanya SIM dan ketakutan akan polisi membuatku mengurungkan niat untuk mengunjungi papah pada sore itu.

   Tiba dirumah, aku bertindak seperti biasa. Menonton tv hingga larut malam. Tetapi entah mengapa disetiap detik dan menit yang berlalu pada malam itu membuat hatiku sedikit tak tenang. Aku melihat jam didinding yang menunjukan pukul 23.17 wib dan bertanya kenapa papah belum pulang juga. Aku sempat mengirim pesan singkat padanya lewat telepon genggam. Meminta ia untuk membelikan sesuatu untukku. Dan Tanpa sadar aku tertidur lelap.

   Pukul 1 dini hari, telepon genggamku berdering. Aku sudah berada dibawah alam sadarku. Aku tak terbangunkan olehnya. Aku benar - benar tertidur pulas. Jam 2 kurang kembali telepon genggamku berdering. Kakakku yang pada saat itu masih terjaga, mengambil hand phone ku karena sedikit penasaran siapa yang meneleponku selarut itu. Ketika dijawabnya, ada suara seorang lelaki yang bertanya apakah kenal dengan nama yang dia sebut adalah benar nama papah. Sontak, kakak ku kaget. Dan seseorang disebrang sana menjelaskan bahwa ia adalah seorang polisi dan memberitahukan bahwa telah terjadi kecelakaan yang menimpa papah kami. Kakak Ku berteriak "apa yang terjadi dengan papah?" Yang berhasil membangunkan Ku. Setelah kakakku menutup telepon, dia panik. Dia menangis dan berkata padaku bahwa papah mengalami kecelakaan dan sekarang berada di RSU. Aku kaget bukan main. Dibenakku dipenuhi akan  pertanyaan pertanyaan bagaimana keadaannya. Kakak sudah terkejut dan menggila berkhayal sesuatu yang parah pasti menimpa papah. Aku mencoba menenangkannya dan berteriak tidak akan ada hal buruk yang terjadi menimpa papah.

   Yang benar saja, sesampai di RSU kami menjerit!!! What the fuck hell just happening!! Papah terbaring meronta dengan darah yang banyak disekitar kepalanya. Darah dimana mana. Kakak berteriak dan menangis histeris tak percaya. Aku pun sama menangis histeris. Enggak mungkin orang itu papah, enggak mungkin!!!!!!!! 


Tetapi, kenyataan adalah hal yang sebenarnya paling tidak kita inginkan dan harapkan.




Notes:
   Aku tidak siap untuk memasuki umur yang selanjutnya tanpa kehadiranmu disisi pah. Tidak kuat untuk melangkahkan kaki ini dan menerima kenyataan disetiap harinya bahwa papah sudah tidak bersama kami lagi disini. Iya aku bisa saja menyangkal dan mengatakan bahwa aku disini baik - baik saja. Tapi tinggal menghitung waktu kapan hal itu akan tiba. Kapan rasa yang berkata aku baik-baik saja akan mengakui bahwa sebenarnya aku tidal kuat dan tidak sanggup untuk menjalani ini semua. 

Notes II:

  Terkenang selalu dirimu pah. Salam sayang dari sini untuk papah di Sana. Miss you so much!!!!

Selasa, 21 Juli 2015

"Status"

Satu persatu, teman seperjuangan, teman masa kecil, teman sepergaulan, teman hang out bareng, teman segala-galanya telah membuka lembaran baru dikehidupannya. Mewarnai setiap lembar buku kehidupan dengan warna yang berbeda, warna yang lebih menarik.

"You're invited to come to our wedding on ......... And ....... . we were so exciting to see you're watching our special moment in our life. And bla~bla~bla" To : Mrs. Anonim

Seketika begitulah beberapa kutipan yang tercantum di Surat undangan teman ku.

Aku telah berhasil lulus SMA, membuat beberapa jeda untuk masuk keperguruan tinggi tidak begitu sulit untuk dapat mencapai sebuah gelar di belakang nama ku.

Ms. Anonim S.Psi. Aku telah lulus kuliah 6 bulan yang lalu, dan sekarang aku sudah memakai gelarku ini untuk bekerja disebuah perusahaan asing di Jakarta. Mempunyai karir cemerlang, Bos yang sangat mengagumkan, dan rekan kerja yang begitu bersahabat.. yang tak memungkinkan untuk ku berhenti dari zona nyaman ini hanya untuk mencari suatu hal yang baru.

Aku hidup seorang diri, sebatang kara, hanya little pony yang setiap harinya menemani hari hari ku. Dia anjing Ku. Yang ku adopsi dengan ilegal. Kutemukan dia terduduk letih diujung jalan ketika aku hendak pulang. Sanak saudara ku yang terdekat ada di Papua. Ya, mereka tersebar dimana-mana. Sudah cukup sukses dengan karir masing - masing dan sedikit ada rasa gengsi untuk kembali bersama dan mengucapkan "aku merindukan keluargaku". Tidak, kami tidak di didik untuk menjadi orang yang gengsi akan hal hal yang menyangkut emosional.. Hanya saja, pergaulanlah yang melakukannya.

Ok, ok... Cukup dengan pengenalan diriku. Kembali kepada topik semula..
Aku ingin beropini tentang status yang akhir - akhir ini mengusik hati. Ingin mengungkapkan secara lisan tapi mulut ini tak memberi cukup arahan yang baik untuk mengeluarkan apa yang ada di kepalaku. Jadi aku mencurahkannya di sini.

Berawal dari tulisan pada paragraf pertama, pasti gak sedikit dari kalian yang mengalami hal serupa. Membuat hati sedikit gelisah tak tentu arah, mood yang sewaktu - waktu berubah. Keinginan yang terbendung (mungkin)cukup lama dan tak cukup hati untuk menunggu sampai kapan lagi. "Menikah".

Dengan usia yang bisa dibilang sudah cukup untuk membina dan membangun Rumah tangga, sudah mencapai target dimana kita sudah harus mulai memegang sebuah tanggung jawab yang cukup besar, sudah waktunya juga untuk keluar dari zona yang amat terlalu nyaman untuk diri kita sendiri (memikirkan diri sendiri). Kenapa tidak ?

Tapi selain fisik, usia, dan kemapanan seseorang mau itu perempuan atau laki - laki.. Ada satu faktor, dimana faktor ini sangat sangat amat menggantung. Pasangan... Kita gak mungkin kan menikahi diri sendiri?? Hell oooo.. No.... We're not psycho.

Buat kalian yang sudah memiliki pasangan di usia yang matang dan waktu yang tepat, gak dapat dipungkiri lagi kalau diantara kalian pasti sudah ada rencana untuk melangkah kejenjang berikutnya. Tapi... Bagaimana dengan kamiii **(?), para Single(s).

Beberapa hari lalu, tepatnya pada hari Raya Idul Fitri adalah hari dimana itu menjadi beberapa waktu- waktu terpahit yang pernah kami* alami. Bagaimana tidak..(?). Tidak kah kalian para single mendapat beberapa ucapan seakan ucapan itu adalah bom yang tepat waktu meledak dihati kalian dan asap mengaliri seisi tubuh kalian?.
"Kapan menikah?", "Mana pasanganmu?" Adalah kata - kata favorite yang keluar dari mulut sanak saudara. Dan kami* hanya bisa tersenyum paksa tanpa terucap jawaban pasti, dan atau mungkin ada yang beberapa dari kalian yang tersedak oleh tajamnya rasa cabai yang begitu terasa di santapan rendang buatan mantan?. Ouh yeah.. It's hurt!. Atau yang lebih sadis lagi... Saudara yang berkunjung dari luar negeri berkata, "Yang kemarin ko gak diajak?". Argggh apakah aku harus membuat status di group bbm keluarga agar mereka tahu kalau aku sudah putus (?) .

Belum lagi saat kita** hangout bersama teman se-geng. Ketika para sahabat mencurahkan kemesraan dan kesetiaan pasangan mereka, hal-hal annoying pasangan terhadap mereka, dan bla bla bla lainnya, tapi kita**(?) Kita hanya termenung, berandai - andai perlakuan itu dilakukan oleh orang yang kita suka. Atau kita hanya bisa terdiam tanpa kata. Hanya cukup mendengarkan, tapi hati bagai teriris - iris tipis oleh tajamnya pisau dapur.

Nasib yang diterima pun sama menyakitkan nya bahkan lebih ketika kita berada disekelilingan laupan orang berpasangan. Ketika melihat pasangan yang tertawa bahagia, bergandengan tangan, bermesraan.. Aaaaaargkh, kalian membuat iriiiii!!!! ����

("GUE SINGLE BUKAN JOMBLO".)

Suck to be JOMBLO isn't it?. Teman, keluarga, bahkan orang tak dikenal pun seakan membully ��. But, how about being single ?. Dalam arti harafiah mungkin sama. Yang berarti sendiri, gak punya pasangan dan sebagainya. Tapi mereka punya makna yang berbeda.
Untuk "jomblo" itu nasib mu nak. Seberapa banyak usaha kamu mendekatkan diri kepada sejuta lawan jenis diseluruh dunia, kalau emang nasib mu sendiri ya udah sendiri sampai kapan pun juga. Terkecuali Tuhan yang berkehendak.
Untuk "SINGLE", ada beberapa lawan jenis yang mencoba menaklukan hatinya tapi sayangnya si subject memilih untuk sendiri daripada membangun sebuah hubungan. Lebih nyaman dengan kesendirian.
Perbedaan yang cukup signifikan ( atau pembelaan pintar terhadap status? ����).

Tapi (jujur) buat para strangers.. Please, do not quickly to judge us!. Kita memang tidak seperti kalian para wanita atau pria yang sudah berpasangan. Yang mungkin "menurut kalian" kesehariannya membosankan , penuh dengan aktifitas kesendirian dan apalah apalah ituu. Tapi yakin deh pasti hidup kami bisa sama atau pun bisa lebih berwarna dibanding kalian... Yah beberapa .

For us* Thinking positive. That's the key. Berfikir pasti nanti ada waktunya dimana kita udah gak sendiri. Dimana tanggung jawab gak hanya untuk perbuatan diri sendiri. Dimana harus bisa menyelesaikan problematika yang menyangkup dua, tiga, atau empat pemikiran. Semua ada waktunya, ada bagian - bagiannya. Kita hanya perlu menikmati setiap langkah dalam proses mencapai akhir nya.

We are free, young (definitely) and wild (probably), unstoppable ( of course). Gak terpaku dengan aturan aturan dan batasan batasan sebagaimana yang orang berpasangan melakukannya.
Couple(s) ? You'll miss it !!

And that's what Single meant to be. .��

And FYI.. I'm single! .��

-note-

*jomblo
**(aku menyebutkan "kami"/"kita" Karena aku tau dari beberapa orang yang membaca blog ini adalah single people.. I knew because I know I'm not alone )����

Minggu, 13 April 2014

Lost part 1

Begok, tolol, gak punya otak ! < - kata - kata yang selalu gue ucapin ke "lo". Gue selalu ngehina lo, nunjuk - nunjuk diri lo.. Bahkan gak tega gue nampar dan nonjok muka lo yang udah bersimbah air mata.

Gue heran dengan orang yang selalu menganggap lo itu penting. karena buat gue lo tuh sampah yang cuma bisa ngerepotin orang doang !. Banyak kok orang yang sependapat dengan gue. Apa perlu gue sebutin ? apa lo buta ?. Perlakuan - perlakuan yang mereka buat ke lo ? Caci maki.. perlakuan yang kasar.. atau pun perkataan yang lembut tapi menusuk di hati lo ??

Yang lebih herannya buat gue.. kenapa lo diam ? kenapa lo terima diperlakukan seperti itu ? kemana mata lo ? pikiran lo ?
mungkin kemarin - kemarin lo bilang karena masih bergantung sama mereka.... Tapi sekarang ?
Jawab pertanyaan gue .. Sampai kapan ? SAMPAI KAPAN MAU DI HINA, DIRENDAHIN, DIREMEHKAN ? Jangan hanya karena sumpah serapah dari orang yang satu itu lo jadi terpuruk ! Lo jadi nyalahin diri lo ! Wake up !!

"aku gak bisa",
What the fucking hell ??

Emang gak mudah, mulai dari awal tanpa siapa - siapa. Tapi apa salahnya mencoba ?

( and then ......... i see you smile :) )

hapus air mata lo.. Gak guna lo menangis tanpa berbuat apa apa..
Berdo'a salah satu jalan yang bisa lo lakukan..
Dan yang paling penting, keinginan lo buat berubah. Dan serahin semuanya kepada Tuhan :).



(................) *hening



Emm, Makasih :') .
Lo memang ngertiin gue banget :') ..

Thanks to God I have you :) ..

and ... thanks a lot to you....... "mirror" :) .